Kangen bunyi
tung,,tang,,ting,,,tung,,,tang,,,ting terus bersahutan sepanjang pagi, siang
hingga sore. Suaranya pun nyaring terdengar di tengah hiruk-pikuk aktifitas
warga pedesaan di dukuh rawan banurejo, desa sikumpul kecamatan kalibening, Banjarnegara.
Di tempat tersebut, satu persatu besi mapun
baja lempengan, disulap menjadi berbagai macam alat tradisional yang digunakan
warga oleh seorang pandai (perajin) besi. Alat-alat yang dihasilkan seperti
golok, kayul, pencong, cangkul dan lainnya.
Mungkin tak banyak yang tahu jika di dukuh rawanbbanurejo,
pada era 60-an sampai 90-an, menjadi sentra pandai besi. Namun seiring kemajuan
zaman, keberadaan penempa besi pun semakin berkurang dan menyisakan satu tempat
saja, karena tidak ada generasi penerus.
“Seiring kemajuan zaman, pekerjaan seperti ini tidak lagi banyak
dilirik. Kalah saing dengan peralatan pertanian modern, maka satu persatu
pandai besi gulung tikar. Dari lima tempat pandai besi yang ada, kini hanya
menyisakan satu perajin yang bertahan dengan peralatan seadanya. Saya adalah anak
empu sebut saja pak Jirno yg pada masa itu lumayan terkenal karena peralatan
buatannya cukup kuat dan tahan lama. Bahkan pesanan tidak hanya wilayah
kalibening bahkan dari karanganyar, doro kab. Pekalongan pun ada yg sudi untuk
membeli. Pandai besi di wilayah kalibening cuma ada di dukuh rawan. Ada satu di
pasar kalibening itupun empu dari dukuh rawan banurejo. Namun keberadaan mereka
saat ini terancam punah. Banyaknya alat rumah tangga dari besi buatan pabrik
besar menggeser peran pandai besi.
Dari satu pandai besi yang masih tersisa di
dusun ini, tidak setiap hari beroperasi. Hal ini dikarenakan banyak faktor. Di
antaranya dengan hadirnya traktor sawah, yang membuat petani tidak lagi
mencangkul. Akibatnya, pesanan cangkul pun terus berkurang. Bahan baku yg susah
dan mahal menambah beban tersendiri para empu.
“Dahulu dalam satu hari, kita bisa membuat 7-10 pucuk cangkul. Kini
membuat satu cangkul dalam seminggu saja sudah beruntung. Hal ini tentu saja
menyebabkan berkurangnya pendapatan,
Faktor lain yang membuat satu persatu
pandai besi punah di dukuh rawan banurejo karena tidak adanya alih generasi. Karena
berkurangnya minat orang untuk bekerja menjadi pandai besi. Utamanya kalangan
generasi muda. Sehingga tidak ada regenerasi untuk profesi semacam ini.
“Karena jaman terus berubah, pandai besi kini bergeser dari pembuat
alat menjadi tukang memperbaiki alat. Kalau alat yang dimiliki sesorang rusak,
baru mereka pergi ke pandai besi untuk memperbaiki.
Bersambung,,,,,,,,
